Minggu, 07 Januari 2018

jurnal getaran mekanik

JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 1, No. 2, Oktober 1999 : 156 - 162


Kajian Teoritik Sistem Peredam Getaran Satu Derajat Kebebasan


Joni Dewanto
Dosen Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin - Universitas Kristen Petra


Abstrak

Getaran yang terjadi pada mesin-mesin biasanya menimbulkan efek yang tidak dikehendaki; seperti ketidaknyamanan, ketidak tepatan dalam pengukuran atau rusaknya struktur mesin.

Getaran terjadi karena adanya eksitasi baik yang berasal dari dalam maupun dari luar sistem akan tetapi efek getaran yang ditimbulkannya sangat tergantung dari frekuensi eksitasi tersebut dan elemen-elemen dari sistem getaran itu sendiri.

Untuk meredam getaran yang terjadi dapat dilakukan dengan cara memasang sistem peredam dinamik pada sistem yang bergetar atau memasang sistem tersebut pada tumpuan yang baik sesuai dengan frekuensi eksitasinya.

Kata kunci : peredam getaran.


Abstract

Vibration that happen on machines usually produces unexpected effect, such as unconfortablelity and inaccuration mesurement or distruction on machine’s structure.

Effect of vibration due to both external or internal excitation is influence by this frequency of excitation and elements of vibration system its self.

An effort to damped this vibration effect can be done by attach a dynamic absorber to the system or by mounting the system on the proper suspension according to their axcitation frequency.

Keywords : vibration damping.




1. Pendahuluan

Getaran mekanik dapat didefinisikan seba-gai gerak osilasi dari sistem mekanik di sekitar titik/posisi seimbang. Getaran terjadi karena adanya gaya eksitasi. Hampir semua mesin yang bergerak akan bergetar meskipun mungkin intensitasnya sangat kecil. Karena secara praktis tidak mungkin menghilangkan eksitasi getaran sama sekali. Eksitasi dapat terjadi karena adanya ketidakseimbangan pada mesin itu sendiri atau dari sumber di luar mesin. Pada banyak hal biasanya terjadinya getaran sangat tidak diinginkan karena getaran dapat mengganggu kenyamanan, menimbulkan ketidak presisian atau menurunkan kwalitas kerja mesin-mesin perkakas. Bahkan getaran juga dapat merusak konstruksi mesin. Untuk itu banyak upaya dilakukan untuk meredam getaran. Meredam getaran pada dasarnya dapat dilakukan dengan meminimalkan gaya gaya eksitasi akan tetapi juga dapat dilakukan


Catatan : Diskusi untuk makalah ini diterima sebelum tanggal 1 Januari 2000. Diskusi yang layak muat akan diterbitkan pada Jurnal Teknik Mesin Volume 2 Nomor 1 April 2000.


dengan memasang sistem peredam. Tulisan ini membahas bagaimana getaran yang terjadi karena gaya-gaya tersebut dapat diredam tanpa mengubah besarnya gaya eksitasi yang diberikan. Getaran yang dibahas dimodelkan sebagai sistem massa diskret dan dinyatakan sebagai persamaan gerak (simpangan) dari massa tersebut. Untuk itu meredam getaran berarti menurunkan simpangan massa yang terjadi karena gaya eksitasi getaran.


2. Elemen Sistem Getaran

Elemen-elemen dari sistem getaran ditun-jukkan sebagaimana gambar 1 di bawah. Masing-masing diidealisasikan sebagai massa (m), pegas (k), peredam ©, dan eksitasi (F). Tiga elemen pertama menunjukkan kondisi fisik dari sistem. Keadaan fisik suatu sistem dapat dinyatakan sebagai massa, pegas dan peredam yang tersusun misalnya seperti pada gambar 1. Massa (m) diasumsikan sebagai body kaku (rigid) yang tidak memiliki elastisitas dan redaman. Sebaliknya pegas juga dianggap hanya memiliki elastisitas (k) saja sehingga massa dan redamannya diabaikan. Demikian



156                  Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra

http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/


Kajian Teoritik Sistem Peredam Getaran Satu Derajat Kebebasan (Joni Dewanto)




halnya, peredam juga dianggap hanya memiliki sifat redaman saja.



massa kontinyu memiliki n derajat kebebasan yang tak berhingga. Ketiga model klasifikasi getaran tersebut ditunjukkan pada gambar 2.












Gambar 1. Elemen sistem getaran

Persamaan gerak massa (m) merupakan respon karena adanya eksitasi gaya (F). Karakteristik getaran biasanya ditunjukkan sebagai persamaan perpindahan, bukan per-samaan kecepatan ataupun persamaan per-cepatan dari massa (m).

Gaya pegas terjadi hanya jika terdapat defleksi relatif antara kedua ujung-ujungnya. Menurut hukum Hooke's besarnya gaya pegas sebanding dengan defleksi relatif tersebut. Konstanta kesebandingannya disebut konstan-ta pegas (k) dan dinyatakan dalam satuan gaya per satuan panjang. Untuk peredam viscous besarnya gaya redaman sebanding dengan kecepatan dan faktor kesebandingan disebut koefsien redaman ©.


3. Klasifikasi Getaran

Getaran dapat diklasifikasikan menurut ada tidaknya eksitasi yang bekerja secara kontinyu, menurut derajat kebebasannya atau menurut sistem massanya. Menurut klasifikasi yang pertama getaran dibedakan sebagai getaran bebas atau getaran paksa. Disebut sebagai getaran paksa jika pada sistem getaran terdapat gaya eksitasi periodik yang bekerja kuntinyu sebagai fungsi waktu. Pada sistem getaran bebas getaran terjadi karena adanya eksitasi sesaat seperti gaya impulsif atau adanya simpangan awal. Menurut derajat kebebasannya getaran dapat dibedakan sebagai getaran derajat satu, dua, atau n derajat sesuai dengan banyakya koordinat bebas (indepen-dence) yang diperlukan untuk mendefinisikan persamaan gerak sistem tersebut. Pada sistem getaran massa diskret setiap massa dianggap sebagai bodi kaku dan tidak mempunyai elastisitas. Sebaliknya pada sistem massa kontinu, massa yang bergetar tidak dianggap sebagai bodi kaku tetapi mempunyai elastisitas sehingga dimungkinkan adanya gerak relatif di antara titik-titik pada massa tersebut. Sistem











(a)    Sistem getaran bebas massa diskret dua derajat kebebasan

(b)    Sitem getaran paksa massa diskret satu derajat kebebasan

(c)    Sistem getaran paksa massa kontinyu

Gambar 2. Model klasifikasi getaran


4.  Sistem Getaran Paksa Massa Diskret Satu Derajat Kebebasan

Pada sistem getaran ini bekerja gaya eksitasi F yang merupakan fungsi sinus dengan amplitudo F0 dan frekuensi w. Persamaan gerak massa m sebagai respon dari adanya gaya tersebut dapat ditentukan dari analisa gaya-gaya yang bekerja pada massa m ketika posisinya tersimpang sejauh x dari posisi seimbang statisnya. Dalam kondisi keseimbang-an dinamis maka dapat disusun persamaan diferensial sebagai berikut :

mx&& + cx& + kx = F0 sin wt
(1)
dimana :

mx&&
=
Ggaya inersia massa

cx&
=
Gaya   redaman   viscous
(sebanding


dengan kecepatan)

kx
=
Gaya pegas


dan x&& , x& dan x masing-masing adalah simpang-an, kecepatan dan percepatan massa m.

Persamaan diferensial (PD) di atas mem-punyai dua solusi masing-masing disebut sebagai solusi parsial (xp) dan komplementer (xk) dimana solusi umumnya x (t) = xp + xk. Solusi komplementer menyatakan persamaan kondisi transien, diperoleh dari solusi PD homogen. Sedang solusi parsial menyatakan persamaan kondisi steady, diperoleh dari solusi PD lengkap. Solusi PD homogen secara umum dapat dinyatakan sebagai xk = est. Dengan mensubstitusi harga xk dan turunan-turunanya pada PD homogen persamaan 1 maka diperoleh persamaan karakteristik sebagai berikut :

s2 + c/m s + k/m = 0
(2)



Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra
157
http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/




Konstanta-konstanta A, B atau X dan j dapat ditentukan dari kondisi awal yang

§ Pada kondisi kurang teredam harga ( c/2m)2 < k/m dengan demikian s menjadi bilangan imajiner sehingga xk merupakan fungsi yang berosilasi dan meluruh karena ada suku

gerak transiennya adalah xk

dan akar-akar karakteristiknya dapat ditentu-kan sebagai berikut :
JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 1, No. 2, Oktober 1999 : 156 - 162



s1,2 = -   c
2m

Jadi   solusi




æ
c  ö
2
k
±
ç

÷
-

m

è
2m ø

komplementer   atau
= Ae s1t


Persamaan gerak untuk kondisi steady dapat dimisalkan sebagai xp = Xp sin (wt-q) Substitusi persamaan xp dan turunan-turunannya pada
(3)             persamaan 1 maka diperoleh persamaan sbb :

-mw2Xpsin (wt-q) + cwXpcos (wt-q) + k Xpsin (wt-
persamaan
q) = Fo sin wt
(7)
Dari  persamaan
tersebut  amplitudo  sim-
+ Be s2t
pangan Xp dan sudut q masing masing dapat
ditentukan sebagai berikut :






















X p =







Fo








dan





e-(c/2m)t.















(k - mw 2 )2 + (cw )2




















q = tan -1

cw


















§ Pada kondisi sangat teredam (over damped)

















(8)





















k - mw

















harga (c/2m)2  > k/m sehingga s merupakan
























bilangan riel dan xk bukan merupakan fungsi

Dengan w2n = k/m dan
z = c/ cc persamaan di


yang berosilasi.









atas
dapat


dinyatakan


dalam

bentuk
§ Pada
kondisi   redaman   kritis   koefisien
nondimensional sebagai berikut :







redaman   c   dinyatakan   sebagai   cc    dan

X p k












1












memenuhi persamaan (c/2m)2  = k/m = wn  (


=























dan




























wn disebut frekuensi natural ).





Fo
é
æ


w
ö
2 ù
2

é
æ

w
öù
2






















ê


ú








Selanjutnya
jika
z
didefinisikan  sebagai
ratio



ç





÷


+ ê2z
ç



÷
























1
- ç

w

÷
ú


ç
w

÷ú



redaman z = c/cc  , maka persamaan (3) dapat



ê
è

n ø




ê
è

ú






ë



û










dinyatakan sebagai :


















ë


n øû






















æ

w
ö


















2

























































2z
ç



÷










s


= (-z ±


z
-1)w






(4)

























n














ç


÷










1,2

















tanq =




è wn ø







(9)


Sehingga

untuk

gerak
berosilasi
kurang

























æ

w
ö








teredam
dimana z< 1 maka persamaan gerak





























1 -
ç


÷










pada kondisi transien dapat dinyatakan sbb :







ç



÷





















èwn ø









x



æ




2
wnt + Be-i  1-z
2

ö
(5)




























k
= e-zwnt ç Aei
1-z


wnt ÷

Sehingga
pada
kondisi
steady

massa  m



ç











÷







è











ø

bergetar dengan amplitudo tetap Xp dan dengan
Persamaan di atas juga dapat ditulis sebagai :
frekuensi
yang



sama
dengan


frekuensi




-zw

t

æ





ö







xk

= Xe
n


1 - z
2
wnt + j

(6)
eksitasinya.

























sinç


÷


Solusi lengkap dari PD pada persamaan 1








è





ø



dapat ditulis sebagai :



diketahui  dan   wn  1 - z 2 menyatakan  freku-
ensi getaran teredam (wd). Kurva tersebut dapat ditunjukkan sebagaimana gambar 3 di bawah.



x(t) =
Fo





sin w




+
k   é
æ
w ö
2 ù2
é
w ù2


ê1 - ç


÷
ú +
2z



(10)


w
ú
ê
ç w
÷
ú
ê

ë
è

n ø
û
ë

n û

Xe-zwnt sin( 1 - z2 wn t + j)




5. Gerak Penopang

Pada beberapa kasus getaran, gaya eksitasi tidak bekerja pada massa m secara langsung akan tetapi diberikan melalui penopangnya. Kasus getaran ini terjadi misalnya ketika sebuah mobil melewati jalan yang ber-gelombang. Kondisi jalan yang bergelombang

Gambar 3. Getaran teredam z < 1              memberi  eksitasi  getaran  pada  bodi  mobil melalui  sistem  penopang  atau  suspensinya.

158                Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra

http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/



Dalam bentuk eksponensial y, z dan x masing-amsing dapat ditulis sbb :

Jika z adalah simpangan relatif antara simpangan massa m dan penopangnya, maka z = x-y sehingga persamaan 11 dapat ditulis sebagai :

Katakanlah jalan yang bergelombang yang dilewati merupakan fungsi sinus y = Y sin 2p x/L. Y dan L masing-masing adalah amplitodo dan panjang gelombang jalan. Jika mobil bergerak dengan kecepatan konstan ke arah u maka, jarak u yang ditempuh mobil setelah t detik adalah u = v. t, dimana v adalah kecepatan mobil. Dengan demikian fungsi y dapat dinyatakan : y = Y sin 2p vt/L. Model ini dapat disederhanakan sebagaimana gambar 4
(b) dengan sebuah massa m mendapat eksitasi melalui penopangnya. Gaya eksitasi tersebut dapat dinyatakan sebagai y = Y sinwt dimana w = 2pv/L dan simpangan massa m adalah x. Diagram bodi bebas (DBB) massa m ketika tersimpang x dari posisi seimbangnya ditunjuk-kan pada gambar 4 (c). Dari DBB tersebut, maka dapat disusun PD :

Gambar 4. Gerak penopang
Kajian Teoritik Sistem Peredam Getaran Satu Derajat Kebebasan (Joni Dewanto)


Untuk  keperluan  analisis  kasus  ini  dapat









æ



w
ö

























dimodelkan sebagaimana gambar 4.






1
+
ç
2z


÷




















X






ç


÷









=






è


wn ø




(14)


Y










2











é

æ
w
ö
2
ù
é


w ù
2











ê


ú








-
ç


÷


+ ê2z












ú





1
ç

÷

ú






ê

è wn
ø


ë

wn û





ë






û












m&x& - c( y& - x&) - k ( y - x) = 0


m&z&+ cz& + kz = -m&y& = mw 2Y sin wt


y = Yeiwt ; z = Zei(wt -q ) dan x = Xei(wt -f)

Persamaan 14 untuk beberapa harga z sebagai fungsi w/wn dapat diplot sebagaimana kurva pada gambar 5. Untuk setiap harga z, perbandingan X/Y maksimum terjadi pada w/wn = 1 atau w = wn dan amplitudo maksimum makin besar untuk z yang makin kecil. Ketika w


























= wn, w disebut frekuensi resonansi. Untuk setiap z harga X/Y sama dengan 1 pada w/wn = 0 dan w/wn = V2. Harga X/Y < l ketika w/wn > V2. Jika X/Y =1 maka berarti besarnya amplitudo respon getaran sama dengan amplitudo eksitasinya.
Getaran akan teredam ketika X/Y < 1 dan besarnya redaman makin besar pada harga z yang makin kecil. Jadi nampak disini bahwa faktor redaman diperlukan untuk membatasi amplitudo maksimum pada frekuensi resonansi. Pada frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi resonansi faktor redaman justru tidak diperlukan karena untuk z yang makin kecil justru akan menghasilkan redaman yang makin besar. Besarnya redaman yang terjadi dapat diatur dari harga w dan wn.

(11)       Redaman makin besar ketika w/wn makin besar, yaitu ketika w makin besar atau wn makin kecil atau keduanya. Basarnya w ditentukan oleh eksitasinya. Dalam hal ini w tergantung dari kecepatan mobil (v) dan panjang gelombang permukaan jalan (L). w
makin      besar      ketika      v     makin       besar      dan
(12)
pengaruh L akan memberi pengaruh yang berlawanan. Sedang wn ditentukan oleh karak-teristik sistem, w makin besar jika kekakuan pagas k makin besar atau massa m makin kecil atau keduanya.

(13)



Dengan substitusi persamaan 13 dan turunannya ke persamaan 12, maka dapat diperoleh perbandingan amplitudo simpangan massa (X) dan simpangan jalan (Y).

X

=
k 2 + (wc)2





atau
Y
(k - mw 2 )2



+ (cw )2



Gambar 5. Kurva X/Y terhadap w/wn



Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra
159
http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/




Amplitudo X yang terjadi karena gaya F0sinwt diberikan oleh persamaan 8 maka persamaan di atas dapat ditulis menjadi :

6. Isolasi Getaran
Gaya-gaya penggetar yang ditimbulkan oleh mesin-mesin seringkali tidak dapat dihindari. Akan tetapi pengaruhnya dalam sistem dinamik dapat dikurangi dengan cara memasang mesin -mesin tersebut di atas sistem tumpuan yang baik. Sistem tumpuan yang baik akan berfungsi sebagai isolator sehingga getaran yang ditimbulkan mesin tidak akan diteruskan pada dasar atau alas mesin.
Katakanlah bahwa Fo sin wt adalah gaya eksitasi yang bekerja pada suatu sistem getaran (mesin) satu derajat kebebasan maka gaya yang diteruskan ke alas dari sistem tersebut melalui pegas dan peredam adalah :
JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 1, No. 2, Oktober 1999 : 156 - 162


1
TR =              (17) 2

æç w ö÷ -1 çèwn ÷ø

7. Sistem Getaran Dua Derajat Kebebasan



FT  =  (kX )
2
+ (cwX )
2

æ cw ö2


= kX
1 + ç

÷


k





è
ø




æ cw ö2








æ


w ö2




F


1 + ç

k

÷







1
+ ç
2z


÷
























è

ø









è


wn ø




T
=











=
















Fo



ù2





2








ù2







é
mw
2


écw ù
é
æ
w
ö
2

é
w ù
2

ê1 -

ú
+

ê


ú



















ê
k

ú


ê
k
ú

1
- ç



÷


ú
+
ê2z
w

ú





ë
û

ê
ç w

÷



ë
n û


ë


û






ë
è

n ø


û





Sistem getaran dengan dua derajat kebebas-an memiliki dua frekuensi natural dan memerlukan dua koordinat untuk menyatakan persamaan geraknya. Bila getaran terjadi pada salah frekuensi tersebut maka terdapat hubungan yang pasti antara amplitudo-amplitudo kedua koordinat dan konfigurasinya dinyatakan sebagai ragam normal. Sehingga sistem getaran ini akan memiliki dua bentuk
ragam        normal         sebagaimana         frekuensi
(15)          naturalnya.

Pada sistem getaran paksa maka frekuensi yang terjadi adalah frekuensi eksitasi dan amplitudo kedua koordinat akan terjadi maksimum pada kedua frekuensi naturalnya. Model dari sistem getaran dengan dua derajat

(16)         kebebasan yang sederhana ditunjukkan pada gambar 6.



Ternyata persamaan di atas sama dengan persamaan 14. Jadi secara matematis masalah mengisolasi massa dari gerakan penopangnya identik dengan mengisolasi gaya pengganggu pada lingkungannya.

Kedua perbandingan tersebut masing-masing disebut transmisibilitas (TR). Sebagai-mana gambar 5 transmisibilitas gaya < 1 untuk w/wn > V2 . Dengan demikian isolasi getaran hanya mungkin terjadi jika w/wn > V2 berapa-pun harga redaman (z) yang dipakai. Akan tetapi pegas tanpa redaman dapat memberi efek redaman yang paling baik. Nampak di sana bahwa redaman justru diperlukan pada saat melewati kondisi resonansi.

Ketika w/wn =1 amplitudo yang dicapai makin besar untuk z yang makin kecil. Sehingga untuk membatasi besarnya amplitudo yang terjadi diperlukan redaman yang besar. Amplitudo getaran yang besar dapat dikurangi dengan menopang mesin pada masa (M) yang besar atau mengganti pegas yang kekakuannya lebih kecil. Dengan demikian diperoleh harga w/wn yang besar lebih dari V2. Bila redaman diabaikan maka transmisibilitas pada persama-an 16 dapat ditulis sebagai :




Gambar 6. Sistem getaran dua derajat kebebasan

Dengan memakai koordinat x1 dan x2 maka persamaan gerak untuk masing-masing massa dapat ditulis sbb :

m&x&1 = -k (x1 - x2 ) - kx1
(18)
2m&x&2 = k (x1 - x2 ) - kx2

Ragam normal getaran dapat ditentukan ketika tiap massa bergetar harmonik dengan frekuensi yang sama pada salah satu frekuensi naturalnya sehingga setiap massa juga akan melewati posisi seimbang pada saat yang sama. Untuk gerakan demikian maka persamaan simpangan masing-masing massa dapat ditulis sbb :
x1 = A1eiw.t
(19)
x2 = A2eiw.t
Substitusi persamaan-persamaan di atas keparsamaan 18 akan diperoleh:



160                  Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra

http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/



Kedua ragam normal di atas secara grafis ditunjukan pada gambar 7 berikut ini.
Sebagaimana persamaan 19 pada getaran dengan ragam normal maka amplitudo kedua massa akan dicapai pada saat yang sama.
Untuk harga = 0,634 k/m kedua amplitudo mempunyai arah simpangan yang sama sedang untuk = 2,366 k/m kedua simpangan ber-lawanan arah. Mode getaran yang terjadi masing-masing ditunjukkan pada gambar 8 (a) dan (b).

Substitusi frekuensi natural ini ke dalam persamaan 20 dapat diperoleh perbandingan amplitudo amplitudo atau yang disebut sebagai ragam normal. Untuk w1 dan w2 masing-masing perbandinagan tersebut adalah :
Kajian Teoritik Sistem Peredam Getaran Satu Derajat Kebebasan (Joni Dewanto)


(2k - w 2m) A1 - kA2 = 0
(20)
-  kA1 + (2k - 2w 2m) A2 = 0

Persamaan tersebut dipenuhi untuk tiap A1 dan A2 jika nilai determinan berikut ini adalah nol.
..........


(2k - w 2 m)....... - k

Gambar 7. Bentuk ragam normal sistem dua massa



= 0
(21)

- k
.....(2k - 2w 2 m)

 


Dengan mengambil w2 = l determinan di atas menghasilkan persamaan karakteristik


2
æ

k ö
3

k

2


l

- ç
3

÷l +

(

)

= 0
(22)


2
m



è

m ø






Akar dari kedua persamaan ini adalah :
(a).  w2 = 0,634 k/m   (b) w2 = 2,366 k/m



l
= (
3

-
1

3)

k

= 0,634
k










1
2

2


m

m





l2
= (
3
+
1
3)
k
= 2,366
k


m
m

2
2





Sehingga frekuensi natural sistem adalah

w1 = l11
/ 2 =
0,634

k

m





w2
= l1 / 2
=
2,366
k
m

2




(
A1
)(1) =

k

=

1

= 0,731





2 - 0,634

A2
2k -w12 m

(
A1
)(2) =

k
=


1
= -2,73


2k - w22


- 2,366

A2

2



Gambar 8. Mode getaran dua derajat kebebasan

(23)          Sebagaimana persamaan 19 pada getaran dengan ragam normal maka amplitudo kedua

massa akan dicapai pada saat yang sama. Untuk harga = 0,634 k/m kedua amplitudo

mempunyai arah simpangan yang sama sedang untuk = 2,366 k/m kedua simpangan ber-lawanan arah. Mode getaran yang terjadi masing-masing ditunjukkan pada gambar 8 (a)
(24)            dan (b).


8. Peredam Getaran Dinamik

Pada sebuah mesin yang memiliki rotor yang eksentris atau mesin torak yang kecepatan geraknya berubah-ubah. akan timbul gaya inersia yang berubah-ubah pula sehingga dapat menimbulkan getaran yang eksitasinya berasal dari dalam mesin itu sendiri. Contoh tersebut ditunjukkan pada gambar 9 (a); yaitu sebuah











(25)        mesin torak (m1) yang ditumpu dengan dua buah pegas masing-masing konstantanya ada-lah k1/2. Antara torak dengan poros dihubung-kan dengan batang penghubung sehingg ketika mesin bekerja akan tibul gaya inersia yang berubah terhadap waktu secara harmonis. Untuk meredam getaran yang terjadi dapat dilakukan denga memasang sistem massa-pegas yang lain yang berfungsi sebagai penyerap getaran. Prisip kerja penyerap getaran dinamik dapat ditunjukkan dengan model sistem getaran paksa dua derajat kebebasan yang merupakan sistem yang equivalent dengan sistem tersebut (gambar 9 (b)).


Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra
161
http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/



JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 1, No. 2, Oktober 1999 : 156 - 162


Dari persamaan tersebut terlihat bahwa X1 menjadi nol pada frekuensi resonansi sistem peredam getaran yaitu ketika w = V(k2/m2). Sistem peredam dinamik tanpa redaman (z) semacam ini biasanya di atur untuk k1 /m1 = k2 /m2 sehingga X1 akan berharga nol pada frekuensi resonansi sistem utama. Dengan demikian getaran dari sistem utama dapat diredam.

(a) Sistem getaran                   (b) Sistem equivalent



Gambar 9. Penyerap getaran dinamik

9. Kesimpulan



Katakanlah sistem utamanya adalah m1 dan
§ Getaran  dapat  diredam  dengan  memasang
k1  yang tidak dapat diubah dan akan diredam
sistem   peredam   getaran   dinamik   pada
getarannya serta sistem penyerap getarannya
sistem  yang  bergetar  atau  merencanakan
adalah m2  dan k2. Dari model sistem dinamik
sistem tumpuannya yang baik
tersebut dapat disusun persamaan diferensial
§ Pada sistem peredam dinamik (non viscous),
sbb :












getaran sistem utama dapat diredam ketika
m1&x&1 + k1x1 + k2 (x1 - x1 ) = F.sin w.t

(26)
frekuensi   sistem   utama   sama   dengan
m2 x2 + k2 (x2 - x1 ) = 0








frekuensi resonansi sistem peredam.









§ Amplitudo   maksimum   pada   frekuensi
Jika   eksitasinya   harmonik   maka   dari
resonansi  dapat  dibatasi  dengan  sistem
tumpuan dengan ratio redaman yang besar.
persamaan di atas dapat disusun




Dan sebaliknya pada daerah frekuensi yang
ék
+ k

-w 2m .......... - k


ùìX

ü
ìF ü

lebih besar dari frekuensi resonansi (w/wn  >





V2 ) efek redaman terbesar  ( TR < 1 ) dapat
ê 1

2
1

2
úí
X
1
ý
= í
ý
(27)
dicapai   bila   sistem   tumpuan   redaman
ê


2 ...............k2 -w
2
m2
ú
2
þ
0
þ

memiliki rasio redaman yang kecil.
ë...... - k


ûî

î

Katakanlah sistem utamanya adalah m1 dan

k1  yang tidak dapat diubah dan akan diredam
Daftar Pustaka
getarannya serta sistem penyerap getarannya

adalah m2  dan k2. Dari model sistem dinamik
1.  Meirovitcs,   L.,   Element   of   Vibration,
tersebut dapat disusun persamaan diferensial
McGraw-Hill, Inc., 1975
sbb :
2.  Tse, F.S., Morse, I.E., Hinkle, R.T. Mechani-
m1&x&1 + k1x1 + k2 (x1 - x1 ) = F.sin w.t
cal Vibration Theory and Applications, Allyn
(26)
m2 x2 + k2 (x2 - x1 ) = 0
and Isacon Inc., 1978



Jika eksitasinya harmonik maka dari per-samaan di atas dapat disusun
ék
+ k

- w 2 m .......... - k


ù
ìX

ü
ìF ü
(27)
ê 1

2
1

2
ú
í
X
1
ý
= í
0
ý
ê


2 ...............k2 - w
2
m2
ú
î
2 þ
î
þ

ë...... - k


û



Dimana X1 dan X2 masing-masing adalah amplitudo simpangan m1 dan m2. Sebagaimana persamaan 21 persamaan frekuensi diperoleh dengan cara menyamakan determinan (Dw) dari koefisien matrik X sama dengan nol.

D(w) = (k1 + k2 - w 2 m1 )(k2 -w 2 m2 ) - k22 = 0
(28)
Sehingga  X1  dan  X2  masing-masing  dapat
dihitung sebagai berikut:



X1 =
1
(k2 - w 2 m2 )F.....dan...X 2 =
1
k2 F
(29)



Dw
Dw


3.   Thomson, W.T., Theory of Vibration with Applications, Translated by Lea Prasetio, Erlangga 1981.

4.   Ewin D. J., Modal Testing Theory and Practice, Research Studies Press, England, 1986.



162                  Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Kristen Petra


http://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/

Selasa, 26 Desember 2017

Tugas softkill


PENGARUH PENGECORAN ULANG TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN KEKERASAN PADA ALUMINIUM COR DENGAN CETAKAN PASIR

Helmy Purwanto, Mulyonorejo
Laboratorium Proses Produksi dan Material Teknik
Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang
Jl. Menoreh Tengah X/22 Sampangan, Semarang 50236, Indonesia
Phone: +62-24-8505680, FAX: +62-24-8505681, www.unwahas.ac.id , E-mail: helmy_uwh@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengecoran ulang terhadap kekuatan tarik dan kekerasan pada aluminium. Bahan yang digunakan adalah aluminium yang beredar di pasaran. Material dilebur diatas tungku pengecoran dan dituang pada temperatur 7500C dengan menggunakan cetakan pasir. Hasil pengecoran kemudian dibuat spesimen pengujian tarik menurut standart JIS Z 2201 No. 14 untuk pengujian tarik dan spesimen pengujian kekerasan. Pengecoran ulang dilakukan tiga kali dengan kondisi penuangan yang sama dan masing-masing masing pengecoran dibuat tiga spesimen. Dari hasil pengujian bahwa untuk pengecoran ulang I terhadap pengecoran ulang II kekuatan tarik turun 3.9% dan kekerasannya turun 5.1% dan setelah dilakukan pengecoran ulang III kekuatan tarik turun sekitar 8.9 % dan kekerasannya turun sekitar 27 %. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah bahwa pengecoran ulang akan menurunkan kekuatan tarik dan kekerasan aluminium cor.

Kata Kunci : Pengecoran Ulang (remelting), kekuatan tarik dan kekerasan

1.Pendahuluan

Aluminium (Al) merupakan logam ringan yang mempunyai sifat tahan terhadap korosi dan hantaran listrik yang baik. Pemakaian aluminium diperkirakan pada masa mendatang masih terbuka luas baik sebagai material utama maupun material pendukung dengan ketersediaan biji aluminium di bumi yang melimpah. Aluminium dapat dipergunakan untuk peralatan rumah tangga, material pesawat terbang, otomotif, kapal laut, konstruksi dan lain-lain. Produk-produk aluminium dihasilkan melalui proses pengecoran (casting) dan pembentukan (forming). Aluminium hasil pengecoran banyak dijumpai pada peralatan rumah tangga dan komponen otomotif misalnya velg (cast wheel), piston, blok mesin dan lain sebagainya. Aluminium hasil pembentukan diperoleh melalui tempa, rol dan ektrusi misalnya aluminium profil dan plat yang banyak digunakan dalam kontruksi.

Mengolah biji logam menjadi aluminium memerlukan energi yang besar. Salah satu usaha untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan daur ulang. Karena keterbatasan yang ada seperti pada industri kecil (kasus pengecoran pada industri kecil) tidak semua menggunakan bahan baku, tetapi memanfaatkan aluminium sekrap ataupun rejected materials dari peleburan sebelumnya untuk dituang ulang (remelting). Pengecoran ini untuk mengurangi pemakaian bahan baku serta agar tidak banyak material yang terbuang sia-sia, sehingga akan menghemat biaya produksi.

Hasil pengecoran suatu komponen pada saat digunakan kadang mengalami beban tarik sehingga peralatan tersebut harus mendapatkan jaminan terhadap kerusakan akibat tarikan yang dikenakan, sehingga aman dalam penggunaan atau bahkan mempunyai usia pakai (life time) lebih lama. Untuk itu tentunya perlu diketahui sifat mekanis dari material yang digunakan agar konstruksi nantinya tidak mengalami kegagalan.

Pengecoran ulang adalah pengecoran yang menggunakan material daur ulang yang sudah tidak terpakai untuk di tuang kembali. Pengecoran ulang biasanya dilakukan didalam industri-industri kecil dengan menggunakan dapur sederhana dengan menPengecoran

Coran dibuat dari logam yang dicairkan, dituang kedalam cetakan, kemudian dibiarkan mendingin dan membeku. Oleh karena itu sejarah pengecoran dimulai ketika orang mengetahui bagaimana mencairkan logamdan bagaimana membuat cetakan. Hal itu terjadi kira-kira tahun 4.000 sebelum Masehi, sedangkan tahun yang lebih tepat tidak diketahui orang (Surdia dan Chijiiwa, 1986).
           tungku api dengan pembakaran menggunakan minyak tanah. Metode
pengecoran yang digunakan biasanya menggunakan pengecoran tuang (grafity casting) dan dengan cetakan pasir.

Prosedur Penelitian

Mempersiapkan bahan dan peralatan pengecoran.

Vernier caliper / jangka sorong (Mitutoyo)

Alat ukur temperatur digital
Timbangan
Peralatan pengecoran seperti
Melakukanprosespengecoran

aluminium dengan menggunakan cetakan pasir sebagai berikut :

Membuat model cetak dengan ukuran P = 50 mm, L = 25 mm, t = 15 mm.

Membuat cetakan pasir secara manual.

Setelah aluminium mencair semua kemudian memasukkan pengikat kotoran berupa arang dari baterai. Yang berfungsi untuk memisahkan kotoran dengan cairan aluminium pada saat proses peleburan.

Pengecoran pertama, komposisi bahan 75% piston bekas + 25% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 20 menit dan variasi waktu pendinginan no.1 = 5 menit, no.2 = 10 menit, no.3 = 15 menit.

Pengecoran kedua, komposisi bahan 75% piston bekas + 25% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 25 menit dan variasi waktu pendinginan no.4 = 5 menit, no.5 = 10 menit, no.6 = 15 menit.

Pengecoran ketiga, komposisi bahan 75% piston bekas + 25% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 30 menit dan variasi waktu pendinginan no.7 = 5 menit, no.8 = 10 menit, no.9 = 15 menit.

Pengecoran keempat, komposisi bahan 50% piston bekas + 50% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 20 menit dan variasi waktu pendinginan no.10 = 5 menit, no.11 = 10 menit, no.12 = 15 menit.

Pengecoran kelima, komposisi bahan 50% piston bekas + 50% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 25 menit dan variasi waktu

pendinginan no.13 = 5 menit, no.14 = 10 menit, no.15 = 15 menit.

-Pengecoran keenam, komposisi bahan 50% piston bekas + 50% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 30 menit dan variasi waktu pendinginan no.16 = 5 menit, no.17 = 10 menit, no.18 =

menit.

Pengecoran ketujuh, komposisi bahan 25% piston bekas + 75% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 20 menit dan variasi waktu pendinginan no.19 = 5 menit, no.20 = 10 menit, no.21 =

menit.

Pengecoran kedelapan, komposisi bahan 25% piston bekas + 75% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 25 menit dan variasi waktu pendinginan no.22 = 5 menit, no.23 = 10 menit, no.24 =

menit.

Pengecoran kesembilan, komposisi bahan 25% piston bekas + 75% aluminium daur ulang (remelting) dengan waktu peleburan 30 menit dan variasi waktu pendinginan no.25 = 5 menit, no.26 = 10 menit, no.27 =

menit.
Pengujian

Pengukuran kekasaran dan kekerasan dilakukan di 3 titik benda kerja yang

berberda.Pengukuranpertama

dilakukan pengujian kekasaran terlebih dahulu, ditiik pertama pada sisi paling terdekat dengan lubang tuang pada benda kerja, pengukuran kedua dilakukan ditengah-tengah benda kerja, dan pengukuran ketiga dilakukan pada sisi ujung paling jauh dengan lubang penuang benda kerja. Demikian pula untuk pengukuran kekerasan dilakukan pada titik yang sama.Kemudian hasil pengukuran dari ketiga titik tersebut diambil nilai

rata-ratanya untuk pengujian kekasaran dan juga dengan nilai kekerasan.
2.Cara Penelitian

Desain pembuatan tungku pengecoran menggunakan batu tahan api dan semen tahan api sebagai dinding tungku. Sementara api sebagai pemanas digunakan kompor minyak tanah dengan bantuan udara bertekanan yang disemburkan melalui nosel. Sebagai tempat penampung logam aluminium cair digunakan kowi dan untuk mengukur suhu dari logam cair digunakan digital thermometer dengan termokopel. Bahan menggunakan Aluminium dalam bentuk batangan yang diperoleh dari pasaran. Jumlah dari spesimen pengujian adalah masing masing tiga spesimen untuk tiap pengecoran. Pengecoran dilakukan berulang sampai tiga kali pengecoran dari sisa pembuatan spesimen dengan temperatur tuang 750OC dan di cetak dengan menggunakan cetakan pasir. Sebagai material kontrol dibuat spesimen dari material awal

Tegangan tarik maksimum pada variasi pengecoran ulang I sampai pengecoran ulang III pada temperatur tuang 750oC ditunjukkan pada Gambar 2 dimana pada raw material mempunyai tegangan tarik maksimum sebesar 19.98 kg/mm2. Tegangan tarik maksimum pada pengecoran ulang I terhadap raw material turun dari 19.98 kg/mm2 menjadi 11.69 kg/mm2 atau turun sekitar 41 %. Setelah dilakukan pengecoran ulang II tegangan tarik maksimum turun lagi menjadi 11.23 kg/mm2 atau turun 3.9 % demikian juga setelah dilakukan pengecoran ulang III tegangan tarik maksimumnya juga turun

menjadi 10.23 kg/mm2 atau turun 8.9 %. Pengujian ini menunjukkan penurunan kekuatan tarik maksimum, sesuai yang dilaporkan oleh Purnomo, 2004 pada aluminium tuang 320 yang mengalami penurunan kekuatan tarik setelah dilakukan pengecoran ulang, hal ini disebabkan karena karena adanya porositas yang disebabkan timbulnya gas H2 saat proses peleburan. Penurunan kekuatan tarik juga dapat disebabkan oleh masuknya kotoran pada saat peleburan karana peleburan menggunakan bahan bakar minyak tanah.

3.2.Regangan

Regangan pada variasi jenis pengecoranditunjukkan pada gambar 3, regangan pada raw material adalah 0.35. Setelah dilakukan pengecoran ulang I, regangan turun menjadi 0.09. Pada pengecoran ulang II juga nampak penurunannya menjadi 0.08, dan pada pengecoran ulang III juga turun menjadi 0.07 dengan demikian pengecoran ulang juga membuat regangan dari aluminium menjadi berkurang atau aluminium yang dilakukan pengecoran kemampuan perpanjangannya menjadi berkurang.

3.3.Pengujian Kekerasan
      

Gambar 3 menunjukkan pengaruh pengecoran ulang terhadap kekerasan. Hasil pengujian terlihat bahwa raw material mempunyai nilai kekerasan yang cukup tinggi yaitu sekitar 91.7 BHN. Hasil pengujian terhadap pengecoran ulang I terlihat penurunan yang cukup jauh yaitu dari 91.17 BHN menjadi 19.3 BHN penurunan terjadi sekitar 79%. Pengujian kekerasan pada pengecoran ulang II penurunannya tidak terlalu jauh dari pengecoran ulang I yaitu dari 19.3 BHN menjadi 18.03 BHN, atau sekitar 5.1% demikian pula pada pengecoran ulang III yaitu mengalami penurunan kekerasan terhadap pengecoran ulang II yaitu dari 18.03 BHN menjadi 13.1 BHN atau sekitar 27
Dari hasil pengujian ini terlihat bahwa terjad kecenderungan turunnya harga

kekerasan akibat dilakukannya pengecoran ulang, hal ini disebabkan oleh timbulnya porositas pada hasil pengecoran akibat timbulnya gas pada saat peleburan

Pengaruh tegangan tarik maksimum terhadap kekerasan terlihat bahwa seiring dengan turunnya tegangan tarik terlihat pula penurunan pada nilai kekerasannya dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin sering aluminium di cor ulang maka kekutan tarik dan kekerasannya akan semakin berkurang, sama yang dikatakan Purnomo, 2004 pada aluminium tuang 320 bahwa kekuatan tarik dan kekuatan impak akan turun setelah dilakukan pengecoran ulang.

Uji Kekerasan Brinell

Uji kekersan brinell digunakan untuk mengetahui kekerasan pada hasil pengecoran paduan aluminium.

(Amstead dan Ostwalt, 1995)

Jenis logam
Kekuatan
Keuletan
Kekerasan

Tarik
(%)
(BHN)

(Mpa)

Besi dan baja

Besi cor kelabu
110
– 207
0
– 1
100 – 150

Besi cor putih

310
0
– 1
450

Baja
276

– 2070
12
– 15
110 – 500

Bukan Besi
83

– 310
10
– 35
30 – 100

Aluminium

Tembaga
345
– 689
5 – 10
50 – 100

Magnesium
83

– 345
9 – 15
30 – 60

Seng
48
– 90
2 – 10
80 – 100

Titan
552

– 1034

–
158 – 266

Nikel
414

– 1103
15
– 40
90 – 250

Tabel 2. merupakan sifat dari logam yang sering dipergunakan dalam pengecoran, dimana dalam tabel tersebut terdapat sifat aluminium se

4.Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada proses pengecoran ulang pada aluminium murni dengan menggunakan cetakan pasir dan temperatur tuang 750oC dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.Pengecoran ulang menyebabkan penurunan pada kekutan tarik yaitu dari pengecoran I ke pengecoran II turun sekitar 3.9 % sedang penurunan dari

pengecoran ulang II ke pengecoran III
turun 8.9%atau rata-rata penurunan setelah

dilakukan pengecoran ulang adalah 6.4 %.

2.Pengecoran  ulang  juga  berpengaruh
pada  penurunan  regangan.  Rata-rata

penurunannya sebesar 11 % .

Pengecoran ulang juga menurunkan kekerasan material dari pengecoran I ke pengecoran II turun dari 19.3 BHN menjadi 18.03 BHN atau turun sebesar 5.1% dan dari pengecoran ulang II ke pengecoran ulang III turun dari 18.03 BHN menjadi 13.1 BHN atau turun sebesar 27 %.

Ucapan Terima Kasih

Diucapkan terimakasih kepada segenap laboran dan teknisi Laboratorium Proses Produksi dan Material Teknik Program Studi Teknik Mesin Universitas Wahid Hasyim Semarang dan Laboratorium Bahan Teknik Program Studi D3 Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Daftar Pustaka

Amanto, 2006, Pengukuran Sifat Mekanik, Ilmu Bahan , Bumi Aksara, Jakarta Amstead B. H., Ostwalt P. F., Teknologi Mekanik ,Erlangga , Jakarta Dieter, G. E., 1987, Metalurgi Mekanik, Jilid 1 Erlangga, Jakarta

Japanese Standards Association, 1973, JIS Hand Book Non-Ferrous Metal and Metallurgy, JSA Japan hal. 36.

Kalpakijan, S., 1989, Manufacturing Engineering and Technology, McGraw-Hill. inc Purnomo, 2004, Pengaruh Pengecoran Ulang Terhadap Kekuatan tarik dan

Ketangguhan Impak pada Paduan Aluminium 320, Jurnal Proceedings, Komputer dan Sistem Intelijen Auditorium Universitas Gunadarma, Jakarta hal 905-911.

Surdia, T. dan Chijiwa K., 1991, Teknik Pengecoran Logam, PT Pradnya Paramita,Jakarta.

Shackelford, J. F., 1992, Introduction to Material Science for Engineer, 3 rd edition, Macmillan Publishing Company

Permukaan Baja ST 60 Pada Proses Bubut Konvensional. Skripsi Strata 1 tidak diterbitkan, Universitas Negeri Surabaya.

Arikunto,Suharsimi.(2006).Prosedur

Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.

Ramsden. (2004). Mechanical Properties of

Aluminium Casting Alloys, http://www.ramsden.on.ca/alloys.htm

Smith, F. William. (1995). Material Science and engineering. (second edition). New York: Mc Graw- Hill inc.

Solechan.(2010).StudiPembuatan

Prototipe Material Piston Mengunakan Limbah Piston Bekas dan ADC 12 yang Diperkuat Dengan Insert ST 60 dan Besi Cor. Tesis

Program Pascasarjana UNDIP. Semarang. Universitas Diponegoro Semarang.

Sonny,    Charis    (2006).    Karakteristik Kekuatan    Fatik    Pada    Paduan Aluminium Tuang. Skripsi Strata 1,

Semarang,UniversitasNegeri
Semarang.

Supadi, dkk. (2010). Panduan Penulisan Skripsi Program S1. Surabaya: Jurusan Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya.

Surdia, T. dan Cijiiwa K. (1991). Teknik Pengecoran Logam, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Surdia, T. dan Shinroku. (1992). Pengetahuan Bahan Teknik, PT Pradnya Paramita, Jakarta.

Takeshi, S.G. & Sugiarto, H.N. (1999). Menggambar Mesin Menurut Standar ISO (8th ed). Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Hardi S., 2008, Teknik Pengecoran Logam, BSE

SMK, Departemen Pendidikan Nasional.

Purwanto H., 2009, Teknik Pengecoran, Diktat

Kuliah Teknik Mesin Universitas Wahid
Hasyim Semarang.

Purnomo, 2004, Pengaruh Pengecoran Ulang

terhadap Sifat Mekanis pada Paduan
Aluminium, Jurnal Teknik Mesin Universitas
Gunadarma, Jakarta.

Surdia T. dan Chijiwa K., 1986, Teknik Pengecoran Logam, PT. Pradnya Paramita, Jakarta.

Taufik H. dan Slamet S., 2010, Pengaruh model saluran tuang pada cetakan pasir terhadap hasil cor logam, Jurnal Teknik mesin Universitas Muria Kudus.

Tjitro S. dan Hartanto L. S., 2002, Pengaruh Modulus Cor Terhadap Cacat Penyusutan pada Produk Paduan Al-Si, Jurnal Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Kristen Petra.

Minggu, 05 November 2017

Flowchart metodologi penelitian


FLOWCHART METODOLOGI PENELITIAN




A. Langkah-langkah Metode Penelitian

Pada langkah – langkah penelitian akan dijelaskan mengenai tahapan – tahapan yang akan dilakukan untuk mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan dengan jelas pada objek penelitian.
1. Observasi

Dalam langkah observasi ini, peneliti melihat keadaan lapangan secara langsung. Dan dengan melihat keadaan lapangan secara langsung, peneliti dapat menjabarkan langkah-langkah apa yang selanjutnya yang akan dilakukan.
2. Perumusan Masalah

Dari beberapa permasalahan yang teridentifikasi selama observasi, penelitian ini menarik satu  permasalahan  yang ada dan menarik rumusan masalah untuk diteliti dan dilakukan analisis terhadap pengolahan data yang ada. Adapun  rumusan  permasalahan yang dilakukan pada penelitian ini berlangsung adalah upaya perbaikan kompetensi karyawan yang diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan perusahaan untuk mencapai tujuannya yaitu peningkatan  profitabilitas dan sustainabilitas.
3. Studi Pustaka

Studi pustaka ialah proses penelusuaran / usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Studi kepustakaan merupakan langkah yang sangat penting dalam metode ilmiah untuk mencari sumber data yang akan mendukung penelitian dan untuk mengetahui sejauh apa pemahaman terhadap ilmu yang berhubung dengan penelitian telah berkembang, dan sejauh apa terdapat kesimpulan dan degeneralisasi yang pernah dibuat. Dengan adanya studi pustaka, diharapkan pihak lain dapat memahami keseluruhan isi dari laporan tugas akhir ini, terkait pemahaman mengenai topik pembahasan dan tujuan dari penulisan laporan tugas akhir ini.
4. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian merupakan rumusan kalimat yang menunjukkan adanya hasil, sesuatu yang diperoleh setelah penelitian selesai, sesuatu yang akan dicapai atau dituju dalam sebuah penelitian.
5. Penentuan topik
       Persoalan yang hendak dibuktikan. Dalam hal ini peneliti menentukan satu topik sebagai fokus kegiatan penelitian. Hal itu dilakukan karena permasalahan yang ada biasanya sangat kompleks, sehingga tidak mungkin hanya diteliti dari satu sudut disiplin ilmu saja dan tidak mungkin diteliti dari semua segi secara serentak.
6. Perancangan Interview
       Perancangan interview di buat untuk menyusun apa saja yang akan di tanyakan kepada narasumber untuk memperoleh data yang di inginkan.
7. Interview langsung
Interview adalah teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan penelitian mempelajari sikap – sikap keyakinan, perilaku, karakteristik seseorang yang bisa terpengaruh oleh sistem yang sudah ada. Dengan menggunakan interview, penelitian ini berupaa mengukur apa yang ditemukan dalam wawancara / interview, selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau terbatasnya sentiment yang diekspresikan dalam suatu wawancara. Penggunaan interview tepat bila :

a. Responden (orang yang merespons atau menjawab pertanyaan) saling berjauhan antara responden yang satu dengan responden yang lainnya.
b. Melibatkan sejumlah orang dalam wawancara, sehingga penelitian bisa mengetahui beberapa proporsi suatu kelompok tertentu yang menyetujui atau tidak menyetujui suatu sistematis dari sistem yang sudah ada.
c. Melakukan studi untuk mengetahui sesuatu dan ingin mencari seluruh pendapat sebelum proyek sistem diberi petunjuk – petunjuk tertentu.
d. Ingin meyakinkan bahwa masalah – masalah dalam sistem yang ada bisa diidentifikasikan dan dibicarakan dalam wawancara tindak lanjut.

Perbedaan pertanyaan dalam wawancara dengan pertanyaan dalam interview memungkinkan adanya interaksi antara pertanyaan dan artinya. Dalam wawancara analisis memiliki peluang untuk menyaring suatu pertanyaan, menetapkan istilah – istilah yang belum jelas, mengubah arus pertanyaan, member respons terhadap pandangan yang rumit dan umumnya bisa mengontrol agar sesuai dengan konteksnya.
Beberapa diantara peluang – peluang diatas juga dimungkinkan dalam interview. Oleh karena itu penelitian ini memberikan pertanyaan – pertanyaan jelas, masuk akal, dan pertanyaan – pertanyaan dari responden diantisipasi agar susunan pertanyaan direncanakan secara mendetail.
Jenis – jenis pertanyaan dalam interview adalah :

a. Pertanyaan terbuka ; pertanyaan – pertanyaan yang member pilihan – pilihan respons terbuka kepada responden. Pada pertanyaan terbuka antisipasilah jenis respons yang akan muncul. Respons yang diterima harus tetap bisa diterjemahkan dengan benar.
b. Pertanyaan tertutup ; pertanyaan – pertanyaan yang membatasi atau menutup pilihan – pilihan respons yang tersedia bagi responden.
8. Pengolahan Data

Pada pengolahan data penelitian ini diarahkan untuk mengolah informasi dan data yang diperoleh dari berbagai sumber yang ada. Data yang diperoleh ditindaklanjuti melalui serangkaian metode dan juga pengujian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan juga keperluan.
9. Analisis data
Pada tahapan ini akan dilakukan analisis dan pembahasan dari hasil pengolahan data yang telah dilakukan pada tahapan sebelumnya. Pengolahan data yamg ada akan dikur kompetensi pada saat ini, kemudian akan dilakukan pengukuran kompetensi kesenjangan dengan kompetensi yang diharapkan, dan usulan tindakan untuk memperbaiki kesenjangan kompetensi tersebut.
10. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan penelitian adalah pernyataan singkat tentang hasil analisis deskripsi dan pembahasan tentang hasil pengetesan penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan berasal dari fakta-fakta atau hubungan yang logis.Pada umumnya kesimpulan terdiri atas kesimpulan utama dan kesimpulan tambahan.Kesimpulan utama adalah yang berhubungan langsung dengan permasalahan. Dengan demikian, kesimpulanutama harus bertalian dengan pokok permasalahan  dan dilengkapi oleh bukti-bukti, Dan saran adalah pendapat yang di kemukakan untuk di pertimbangkan dengan harapan dapat memberikan perbaikan yang membangun dan positif.

Sumber :
http://indri8.ilearning.me/1-3-ruang-lingkup-penelitian/
http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab3/2011-2-00682-TI%20Bab%203.pdf











Sabtu, 30 September 2017

TUGAS SOFTSKILL
“Metodologi Penelitian”

Assalamualaikum.. selamat pagi, siang, sore ataupun malam. Tulisan saya kali ini berisi tentang “Metodologi Penelitian”. Bagi yang memang sedang mencari materi ini semoga memiliki manfaat. aamin..
Pengertian Metodologi Penelitian
Metodologi sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu “methodos” dan “logos”. Methodos (metode) “methodos” yang terdiri dari 2 kata yaitu “metha” artinya melewati, menempuh atau melalui dan kata “hodos” yang artinya cara atau jalan. Maka dari itu pengertian dari “Metode” ialah cara atau jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah tujuan dan sedangkan ”logos” berarti ilmu atau bersifat yang ilmiah. Jadi Metodologi ialah merupakan ilmu atau cara yang digunakan dalam memperoleh suatu kebenaran dengan menggunakan penelusuran dengan urutan dan tata cara tertentu sesuai dengan apa yang akan dikaji atau yang diteliti secara ilmiah. . Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.
Tentang istilah “Penelitian” banyak para sarjana yang mengenukakan pendapatnya, seperti :
David H. Penny
Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
J. Suprapto MA
 Penelitian ialah penyelididkan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.
Sutrisno Hadi MA
Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat didefinisikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
Mohammad Ali
Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu dengan melalui penyelidikan atau melalui usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.
Dari batasan-batasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan metodologi penelitian adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membicarakan/mempersoalkan mengenai cara-cara melaksanakan penelitian sampai menyusun laporannya) berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejala secara ilmiah.
Lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk mencari, menyusun serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu pengetahuan berdasarkan bimbingan Tuhan. Metodologi penelitian terdiri dari kata metodologi yang berarti ilmu tentang jalan yang ditempuh untuk memperoleh pemahaman tentang sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Sejalan dengan makna penelitian tersebut di atas, penelitian juga dapat diartikan sebagai usaha/kegiatan yang mempersyaratkan keseksamaan atau kecermatan dalam memahami kenyataan sejauh mungkin sebagaimana sasaran itu adanya. Jadi, metodologi penelitian adalah ilmu mengenai jalan yang dilewati untuk mencapai pemahaman. Jalan tersebut harus ditetapkan secara bertanggung jawab ilmiah dan data yang dicari untuk membangun/ memperoleh pemahaman harus melalui syarat ketelitian, artinya harus dipercaya kebenarannya.
Dalam Metodologi, peneliti selalu berusaha untuk mencari pertanyaan yang diberikan dengan cara-cara yang sistematis yang digunakan dan berupaya untuk mengetahui semua jawaban sampai dapat mengambil kesimpulan. Jika penelitian tidak dilakukan secara sistematis pada masalah, akan lebih sedikit kemungkinannya untuk dapat mengetahui hasil akhir. Untuk menemukan atau menjelajahi pertanyaan penelitian, peneliti akan menghadapi berbagai permasalahan,  dimana semua itu baru dapat diselesaikan secara efektif jika menggunakan metodologi penelitian yang benar (Industrial Research Institute, 2010).
Dalam rangka untuk merencanakan proses penelitian secara keseluruhan dan agar penelitian dapat selesai tepat waktu serta penelitian berjalan di arah yang benar, maka peneliti haruslah hati-hati dalam memilih metodologi. Sehingga proses pemilihan metode penelitian adalah bagian yang sangat penting di dalam proses penelitian. Dengan kata lain; Metodologi berguna dalam rangka memetakan pekerjaan penelitian secara keseluruhan dan memberikan kredibilitas kepada hasil penelitian yang dicapai nantinya.
Kesimpulan dari berbagai pengertian tentang metodologi di atas, menurut versi statistikian adalah: metodologi penelitian adalah sebuah upaya sistematis dalam rangka pemecahan masalah yang dilakukan peneliti agar dapat menjawab permasalahan-permasalahan atau fenomena yang terjadi.
Dengan menggunakan metodologi penelitian, peneliti akan dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan sehingga dapat menemukan solusi dari permasalahan. Serta kesimpulan-kesimpulan tersebut dapat dipercaya, sebab menggunakan pengukuran-pengukuran secara scientific.
Adapun tujuan Penelitian adalah penemuan, pembuktian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Penemuan. Data yang diperoleh dari penelitian merupakan data-data yang baru yang belum pernah diketahui.
Pembuktian. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk membuktikan adanya keraguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu.
Pengembangan. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
Kegunaan penelitian dapat dipergunakan untuk memahami masalah, memecahkan masalah, dan mengantisipasi masalah.
Memahami masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya diketahui.
Memecahkan masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk meminimalkan atau menghilangkan masalah.
Mengantisipasi masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk mengupayakan agar masalah tersebut tidak terjadi.
Diagram alir proses penelitian



Jenis Data dalam Penelitian

Langkah Dalam Metode Ilmiah
Pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Marilah lebih dahulu ditinjau langkah-langkah yang diambil oleh beberapa ahli dalam mereka melaksanakan penelitian.
Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.
2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin dipecahkan.
3. Membangun sebuah bibliografi.
4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.
5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.
6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.
7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok dasar dalam masalah.
8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.
9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.
10. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.
11. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa.
12. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.
13. Mengatur data untuk persentase dan penampilan.
14. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).
15. Menulis laporan penelitian.

Jenis Metode Penelitian

Terdapat banyak jenis metode jika kita lihat dari tingkat eksplanasi maka dapat metode penelitian dapat kita golongkan menjadi tiga (3) yaitu :
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan nilai-nilai suatu variabel;
Penelitian komperatif adalah penelitian yang diadakan untuk membandingkan variabel-variabel penelitian dan terakhir adalah
Penelitian asosiatif atau penelitian hubungan maksudnya adalah penelitian yang digunakan untuk mengetahui hubungan antar dua variabel atau lebih.

Metode penelitian jika dilihat dari analisis dan jenis data maka dapat dikelompokkan menjadi dua (2) jenis penelitian yakni :
Penelitian kualitatif dan
Penelitian kuantitatif.

Berikut akan dijabarkan secara kompleks tentang bentuk-bentuk konkret dari penelitian –pengertian beserta contohnya- antara lain:
a.     Eksperimen
Penelitian eksperimental merupakan bentuk penelitian percobaan yang berusaha untuk mengisolasi dan melakukan kontrol setiap kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang diteliti kemudian melakukan pengamatan terhadap efek atau pengaruh ketika kondisi-kondisi tersebut dimanipulasi. Dengan kata lain, perubahan atau manipulasi dilakukan terhadap variabel bebas dan pengaruhnya diamati pada variabel terikat. Menurut Emzir (2008:96-103) desain penelitian ekperimen dibagi menjadi empat bentuk yakni, pre-experimental design, true experimental design, quasy experimental designdan factorial design.
Contoh:
Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran TANDUR Berbantuan Web Interaktif Terhadap Hasil Belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Malang. (Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2010/2011). (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

b.     Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu metode  penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa adanya. Penggambaran kondisi bisa individual atau menggunakan angka-angka. (Sukmadinata, 2006:5)
Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan suatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya, penelitian demikian disebut penelitan perkembangan (Developmental Studies). Dalam penelitian perkembangan ini ada yang bersifat longitudinal atau sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan waktu.
Contoh:
Manajemen Pengembagan Kinerja Guru SMK se-Kabupaten Kuningan:  Studi Tentang Kepemimpinan Entrepeuneur Dan Sistem kompensasi Kreativitas dan Kinerja Inovatif. (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

c.     Korelasional
Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya hubungan dan tingkat variabel yang penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian. (Sukardi, 2003:166)
Penelitian korelasi merupakan bentuk penelitian untuk memeriksa hubungan diantara dua konsep. Secara umum ada dua jenis pernyataan yang menyatakan hubungan, yaitu: (1) gabungan antara dua konsep, ada semacam pengaruh dari suatu konsep terhadap konsep yang lain; (2) hubungan kausal, ada hubungan sebab akibat. Pada hubungan kausal, penyebab diferensikan sebagai varibel bebas dan akibat direferensikan sebagai variabel terikat. Pada penelitian korelasi tidak ada kontrol atau manipulasi terhadap variabel.
Contoh:
Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kompetensi Interpersonal Pada Remaja (Studi korelasi pada remaja tunanetra yang mengalami ketunanetraan tidak sejak dari lahir di PSBN Wyata Guna Bandung). (Sumber: repository.upi.edu).

d.     Komparatif
Penelitian kausal komparatif atau penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi variabel tersebut telah terjadi. Pendekatan dasar klausa komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dari mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya kemudian dia berusaha mencari kemungkinan variabel penyebabnya.
Penelitian komparatif membandingkan situasi masa lalu dan saat ini atau situasi-situasi paralel yang berbeda, khusunya apabila peneliti tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang diteliti. Penelitian ini bisa memiliki perspektif makro (misal: internasional,nasional) dan mikro (misal: komunitas, individu).
Contoh:
Studi Komparatif Penerapan Model Contextual Teaching and Learning (CTL)dengan Model Problem Based Learning (PBL) dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Menganalisis Rangkaian Listrik dan Elektronika Di SMKN 12 Bandung. (Sumber: repository.upi.edu).

e.     Evaluasi
Penelitian evaluasi merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk memriksa proses perjalanan suatu program  sekaligus menguraikan fakta-fakta yang bersifat kompleks dan terlibat di dalam program. Misalnya adalah keefektifan, efisiensi  dan kemenarikan suatu program (Mukhadis, 2013:61).
Contoh:
Evaluasi Proses Pembelajaran TIK SMA Negeri di Kota Malang Berdasarkan Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses. (Deskriptif tentang kondisi proses pembelajaran mata pelajaran TIK SMA di Kota Malang Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah populasi 10 SMA Negeri dan sampel penelitian sebanyak 5 SMA Negeri).(Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

f.      Simulasi
Penelitian simulasi merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk mencari gambaran melalui sebuah sistem berskala kecil atau sederhana (model) dimana di dalam model tersebut akan dilakukan manipulasi atau kontrol untuk melihat pengaruhnya. Penelitian ini mirip dengan penelitian eksperimental, perbedaannya adalah di dalam penelitian ini membutuhkan lingkungan yang benar-benar serupa dengan keadaan atau sistem yang asli.
Contoh:Penggunaan Simulasi Monte Carlo Untuk Menentukan Nilai Outcome Pada Pengambilan Keputusan (Studi Kasus Pengambilan Keputusan pada Toko NAFC Collection). (Sumber: repository.upi.edu)

g.     Survey
Survey research designs are procedures in quantitative research in which investigators administer a survey to a sample or to the entire population of people to describe the attitudes, opinions, behaviors, or characteristics of the population. (Creswell, 2012: 376)
Penelitian survey digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa berkenaan dengan orang, instansi, lembaga, organisasi dan unit-unit kemasyarakatan dan lain-lain, tetapi sumber utamanya adalah orang. Desain survey tergantung pada penggunaan jenis kuisoner. Survey memerlukan populasi yang besar jika peneliti menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata, semakin besar sample survey semakin memberikan hasil akurat. Penelitian survei memiliki tiga tujuan utama yaitu menggambarkan keadaan saat itu, mengidentifikasi secara terukur keadaan sekarang untuk membandinkan, menentukan hubungan kejadian yang spesifik.
Contoh:
Stress and Burnout in Rural and Urban Secondary School Teachers. Journal of Educational Research. 1999. 92, pg. 287–293. (dalam Creswell, 2012:378)
             
h.     Studi Kasus
Sebuah studikasus adalah eksplorasi mendalam darisistem terikat (misalnya,kegiatan, acara, proses, atauindividu) berdasarkan pengumpulan data yang luas. Studi kasus melibatkan investigasi kasus, yang dapat didefinisikan sebagai suatu entitas atau objek studi yang dibatasi, atau terpisah untuk penelitian dalam hal waktu, tempat, atau batas-batas fisik. Penting untuk memahami bahwa kasus dapat berupa individu, program, kegiatan, sekolah, ruang kelas, atau kelompok. Setelah kasus didefinisikan dengan jelas, peneliti menyelidiki mereka secara mendalam, biasanya menggunakan beberapa metode pengumpulan data, seperti wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi.
Studi kasus kolektif; (a) melibatkan beberapa kasus, (b) dapat terjadi selama bertahun situs, dan (c) menggunakan banyak individu. Kerangka konseptual untuk studi kasus adalah bahwa dengan mengumpulkan informasi mendalam tentang kasus, peneliti akan mencapai pemahaman mendalam tentang kasus ini, apakah kasus itu adalah seorang individu, kelompok, kelas, atau sekolah.
Contoh:
Butera, G. 2005. Collaboration in the context of Appalachia: The case of Cassie. The Journal of Special Education, 39(2): 106–116.
Butera (2005) menggunakan studi kasus dan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumen untuk menggambarkan kolaborasi tim dengan anak 4 tahun di West Virginia. (Stoner, 2010: 21)

i.      Teori Dasar (Grounded Theory)
Grounded Theory merupakan pendekatan yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan atau menemukan teori yang didasarkan pada studi fenomena. Dengan menggunakan grounded theory, peneliti sengaja (a) memilih peserta yang mengalami fenomena yang sedang dipelajari, (b) menganalisis data (yaitu, wawancara, dokumen, dan catatan), dan (c) mendekati fenomena yang diteliti tanpa prasangka pengertian. Kerangka konseptual ini memungkinkan suara peserta muncul , mensyaratkan bahwa peneliti mengidentifikasi tema utama atau konsep dari data peserta , dan memberikan jalan untuk mengembangkan teori dari perspektif peserta .
Most grounded theory researchers will begin with research questions but they do not start with a hypothesis, nor do they begin their investigation with a thorough review of the literature relating to their topic. They build up theory from their data and they do not wait until all data are collected before they begin the analysis stage. (Bell, 2005: 19)
Contoh:
Bays, D. A., & Crockett, J. B. 2007. Investigating Instructional Leadership For Special Education. Exceptionality, 15(3): 143–161.
Pendekatan grounded theory digunakan oleh Bays dan Crockett (2007) untuk menyelidiki kepemimpinan instruksional untuk pendidikan khusus di sekolah dasar. (Stoner, 2010: 22)

j.      Etnografi
Ethnographic researchers attempt to develop an understanding of how a culture works and many methods and techniques are used in this such us: participant observation, interview, mapping and charting, interaction analysis, study of historical records and current public documents, the use of demographic data. (Bell, 2005:16)
Etnografi adalah analisis mendalam dari kelompok sosial. Data biasanya dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumen. Jenis penelitian ini berfokus pada membangun catatan perilaku dan kepercayaan dari kelompok dari waktu ke waktu. Etnografi mengharuskan peneliti berpartisipasi, baik sebagai pengamat atau peserta aktif, waktu interaksi yang cukup lama dengan kelompok yang diteliti. Kerangka konseptual etnografi adalah bahwa keterlibatan langsung ke dalam budaya kelompok akan memungkinkan peneliti untuk melihat dunia dari perspektif kelompok, dan melihat yang akan memberikan pemahaman tentang perilaku dan keyakinan kelompok.
Contoh:
Harry, Klingner, & Hart. 2005. African American families under fire: Ethnographic views of family strengths. Remedial and Special Education, 26(2): 101–112.
Harry, Klingner, dan Hart (2005) menerbitkan sebuah studi etnografi siswa Amerika keturunan Afrika dalam pendidikan khusus di sebuah distrik sekolah beragam budaya perkotaan. (Stoner, 2010: 22)

k.     Kultural
Penelitian kultural (budaya) merupakan penelitian yang dilakukan atas objek berupa unsur atau gejala budaya dengan menggunakan perangkat metodologis yang tercakup di dalam ilmu pengetahuan budaya. Unsur atau gejala budaya adalah unsur atau gejala yang terdapat di dalam suatu masyarakat yang berkaitan dengan perangkat nilai-nilai, pemikiran, dan hasil budi daya dalam bentuk interaksi antara masyarakat dengan lingkungannya atau segi hasil pemikiran atau kreasi anggotanya yang terungkap dalam wujud tulisan atau benda-benda.
Contoh:
Identifikasi Ajen Budaya Sunda Dina Wawacan Jaka Bayawak.
(Sumber: repository.upi.edu).

l.      Historis
Penelitian historikal merupakan bentuk penelitian yang memiliki tujuan untuk menggambarkan fakta dan menarik kesimpulan atas kejadian masa lalu. Data primer dari penelitian ini adalah data yang bersifat historis, misalnya para arkeolog menggunakan sumber data berupa dokumentasi tentang masa lalu. Penelitian historikal dapat digunakan untuk menemukan solusi sementara berdasarkan kejadian masa lalu dan menggambarkan tren masa kini atau masa depan.
Kothari (2004) mengategorikan jenis penelitian histori ke dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan perspektif –mempelajari kegiatan/agenda masa lampau sampai sekarang- dan pendekatan retroperpektif –mempelajari kegiatan/agenda saat ini kemudian dihubungkan dengan hal serupa di masa lalu-.
Contoh:
Seni Tradisi Gembyung di Kampung Ganceuy Kabupaten Subang 1975-1999 (Suatu Kajian Historis Terhadap Sosial Budaya Masyarakat). (Sumber: repository.upi.edu).

m.   Etnologi
Penelitian etnologi merupakan penelitian yang fokus kepada perilaku manusia. Peneliti lebih condong menggunakan interpretasi langsung dari perilaku subjek yang diteliti daripada melakukan interpretasi dari segi  teoritik. Peneliti harus berusaha untuk tidak nampak sebagai peneliti, karena bila tidak demikian interpretasi atas data yang didapat dari responden akan terpengaruh.
Contoh:
Eufemisme Dalam Bahasa Simalungun (Suatu Kajian Sosiolinguistik) (Sumber: repository.usu.ac.id).

n.     Penelitian Praktis (Penelitian Tindakan/Action Reasearch)
Action research designs often utilize both quantitative and qualitative data, but they focus more on procedures useful in addressing practical problems in schools and the classrooms. Action research designs are systematic procedures used by teachers (or other individuals in an educational setting) to gather quantitative and qualitative data to address improvements in their educational setting, their teaching, and the learning of their students(Creswell, 2012:577).
Penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian yang berisi berbagai macam prosedur untuk menguraikan kasus-kasus yang bersifat mikro atau khusus. Simpulan dari penelitian tindakan langsung diberlakukan hanya untuk kasus yang diteliti dan tidak bisa digeneralisasikan. Penelitian tindakan lebih condok ke metode kualitatif yang sangat bergantung pada data penagamatan yang bersifat behavioralistik.
Contoh:
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Tentang Pemecahan Masalah Yang Melibatkan Uang Melalui Metode Simulasi (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas III B SDN Cicadas 03 Gunung Putri Bogor). (Sumber: repository.upi.edu).



Sekian dari saya.. Wassalamualaikum

SUMBER :
http://ribhy.ini-aja.com/just/bahasa-indonesia-just/metodologi-penelitian/
http://www.google.com/imgres?imgurl=http://mathematica.aurino.com/wp-content/uploads/2010/04/041710_1819_RUANGLINGKU1.png&imgrefurl=http://mathematica.aurino.com/%3Fp%3D570&usg=__SPzne32hh7P47QIXmu4Fb8u7AaM=&h=343&w=580&sz=8&hl=en&start=9&sig2=RhbW_s7zbre5LGrrDqclpA&zoom=1&tbnid=TH9rRut5OrX39M:&tbnh=79&tbnw=134&ei=EfF_UeOJN8mKrQek1IGQDw&prev=/search%3Fq%3Dproses%2Bpenelitian%26um%3D1%26hl%3Den%26tbm%3Disch&um=1&itbs=1&sa=X&ved=0CDwQrQMwCA

http://www.perpussekolah.com/2016/03/19-pengertian-metodologi-penelitian-menurut-para-ahli.html
https://www.statistikian.com/2016/11/metodologi-penelitian.html
http://rinawssuriyani.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-metode-dan-metodologi.html
http://staffnew.uny.ac.id/upload/131808346/pendidikan/metodologi-penelitian.pdf
https://idtesis.com/definisi-dan-jenis-jenis-metodologi-penelitian/
http://penjual-mimpi.blogspot.co.id/2014/09/jenis-jenis-metode-penelitian-beserta.html